Rabu, 09 September 2015

Dipaksa Jowo-an!


Dipaksa jowo-an (dipaksa ngomong bahasa Jawa). Inilah yang terjadi ketika jaman saya maba dulu.

Awalnya saya ditawari oleh teman saya kos-kosan. Kebetulan saat itu dikosan teman saya masih ada  2 kamar kosong. Saya dikabarin lewat BBM.

Waktu itu saya memang sedang mencari kos-kosan, karena kosan saya sudah mau habis kontrak. Saya dikabarin lewat BBM. “thur,ini ada kamar yang kosong dua. Kalo kamu mau, entar aku bilangin bapaknya ada temanku mau ngekos disini. Gimana? Biar kalo ada orang mau masuk bisa dikasih tau kalo kamarnya udah mau diambil sama orang.”

Selasa, 08 September 2015

Nyaris Jadi Pedagang Emas


Pada tahun 2006, saya merantau ke Kalimantan Selatan. Saya ikut hidup bersama om saya (adik kandung dari ibu saya) beserta keluarganya (istri dan anak-anaknya). Selama menjalani kehidupan disana, saya seperti “anaknya raja”. Kenapa? Karena dikampung itu banyak anak-anak yang seumuran saya ‘agak’ sungkan buat ngajak saya main. Saya kayak orang yang diistimewakan. Padahal saya juga bukan siapa-siapa sebenarnya. Yang kaya om saya, buka saya.

Minggu, 06 September 2015

Burung Merpati Goreng


*demi apa sampe harus nyari poto burung merpati goreng di google? -demi menyenangkan hati semata !!!

Sabtu, 05 September 2015

Merindukan Tamparan Batin


Suatu ketika saat saya masih duduk dikelas 3 SMP beberapa tahun yang lalu, ada moment yang masih saya ingat jelas sampai hari ini. Hari itu saya berpikir untuk berlaku curang. Niat ini sudah saya rancang dari malam-malam sebelumnya.

Saya sudah tahu bahwa hari x akan ada ulangan harian. Namun jauh-jauh hari saya sudah meniatkan untuk curang dengan membuat contekan. Semua tahu bahwa guru yang satu ini punya “mata saringgan”. Satu sekolah sih bilang begitu. Saya percaya nggak percaya.

Malam harinya teman-teman saya yang lain sibuk belajar untuk besok. Saya juga sibuk buat contekan untuk besok. Kederangan sama tapi beda. Malam itu saya sudah merasa bahwa esok sayalah yang paling juara dikelas.

Menjelang jam 11 pagi, teman-teman saya satu kelas semakin sibuk baca buku. Sibuk. Sibuk sekali. Sunyi. Nggak ada yang ribut. Semua belajar. Cuma saya aja yang nggak buka buku seolah sang jawara sambil senyum-senyum kemenangan.

Saya sama sekali nggak ada baca-baca buku seperti yang lainnya. Saya justru ganggu teman-teman saya yang lagi belajar. “sudahlah nggak usah belajar”. Saya bilang begitu.

Ulangan dimulai. Guru saya menyebutkan soal demi soal. Dan setiap soal yang dibacakan saya senyum-senyum “vegeta”. Merdeka. Hati saya merdeka. Semua soal itu jawabannya ada dicontekan saya.

Nomor satu selesai. Nomor dua selesai. Keadaan masih aja aman. Saya melihat guru saya yang sepertinya belum mengetahui kertas dibalik lembar jawaban saya. Tapi ketika saya ingin melanjutkan ulangan tersebut, tiba-tiba guru saya melihat saya terus dengan tenang. Kerja jantung saya meningkat. Fix saya gemetaran. Dada deg-degan. Kepala saya turun naik. Melihat situasi. Ternyata guru saya terus melihat saya. Tapi kali ini ia melihat sambil senyum-senyum.

“aduh, jangan-jangan aku ketahuan. Gimana ini?” dalam hati saya ngomong begitu.

Saya nunduk, berusaha tetap tenang. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saya melanjutkan menulis, tapi hanya pura-pura. Dan diluar dugaan saya, guru saya tersebut jalan dengan santai mendekati saya sambil senyum-senyum.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Petualangan Lima Jam


Pagi ini saya terbangun dari tidur saya dalam keadaan tubuh saya lemas. Bukan karena saya sakit. Bukan pula karena saya habis kerja rodi. Tapi saya lemas karena di dalam mimpi saya sedang bertarung dengan sengit oleh seseorang yang berlaku curang. Hehe

Selama lima jam saya tidur, saya bermimpi menjadi seorang yang dijebak oleh teman-teman sekolah saya sendiri (ini ceritanya saya kembali jadi anak sekolah lagi). Saya dijebak untuk ikut dalam turnamen seni bela diri muay thai. Seni bela dirinya orang Thailand. Tiba-tiba ketika usai jam pelajaran, salah satu teman saya mengumumkan bahwa dikelas saya, sayalah satu-satunya peserta yang ikut dalam perlombaan.

Saya kaget dan berusaha mengelak. “nggak ah, nggak ah. Aku nggak bisa bela diri. Apalagi muay thai.” Just it I say. Cuma itu yang saya katakan. Entah kenapa di dalam mimpi saya merespon hal yang tidak penting bagi saya tersebut -___- yah namanya juga mimpi yak??


Kemudian tanpa latihan sebelumnya, alur mimpi saya mengantarkan saya pada hari H turnamen tersebut. Ternyata di dalam turnamen tersebut banyak juga teman-teman saya yang ikut. Mereka baik-baik. Mereka peduli sama saya. Buktinya, sebelum pertandingan dimulai, mereka peduli terhadap saya. Mereka memotivasi saya. Mereka memberikan semangat kepada saya. Atau lebih ringkasnya.. (baca : mengompori saya). Parah.